Minggu, 23 Oktober 2011

Kuliner Gunungkidul


Tiwul Gunungkidul

Masyarakat Gunungkidul kini tidak perlu malu dengan keadaannya. Karena kehidupan di Gunungkidul sekarang berubah drastis menjadi kabupaten yang makmur. Puluhan tahun yang lalu daerah Gunungkidul menjadi bahan omongan yang tidak enak didengar bahkan ada yang mengatakan kalau kehidupan di daerah itu tiada harapan lagi. Mungkin karena wilayah Gunungkidul memiliki tanah yang tandus dan penuh bebatuan sehingga hanya bisa menghasilkan singkong dan pohon2 saja. Kehidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan kekurangan makanan sudah menjadi hal yang biasa. Makan dengan nasi putih merupakan hal yang langka karena keterbatasan biaya untuk membeli beras dan tanah yang mereka olah hanya bisa ditanami singkong. Tetapi, dengan hasil tanaman singkong itu mereka dapat bertahan  hidup. Kekurangan air tlah menjadi faktor utama dalam bercocok tanam.
Walaupun dengan kehidupan yang serba terbatas masyarakat Gunungkidul tidak mau menyerah begitu saja. Mereka yakin bahwa suatu saat nanti kehidupan anak cucunya akan membawa perubahan baru untuk kalayakan hidup mereka. Dengan keterbatasan fasilitas yang ada mereka mempunyai kekreatifan yang bisa dibilang sangat tradisional. Berbekal keterampilan tangan mereka kehidupan di wilayah Gunungkidul menjadi sedikit berubah. Contohnya kerajinan Topeng yang ada di dusun Bobung desa Putat. Desa ini kini telah menjadi kampung wisata yang ada di kabupaten Gunungkidul. Karena desa putat telah banyak menghasilkan kerajinan-kerajinan yang terbuat dari kayu pule. Kerajinan yang dihasilkan oleh warga Putat meliputi topeng batik, patung, mainan anak-anak, dan hasil kerajinan lainnya.
Pada awalnya, desa Putat adalah desa yang memiliki kesenian tari topeng. Kesenian tari topeng hanya bisa ditampilkan kalau ada salah satu dari warga yang mengundangnya. Karena tidak semua orang bisa menanggap kesenian tari topeng. Pada saat itu, kesenian tari topeng mengalami masa keemasan. Setiap ada orang yang mempunyai hajatan entah pernikahan atau sunatan dan hajatan lainnya tari topeng selalu tampil. Tari topeng sangat disukai oleh masyarakat karena keunikan dan wujud topeng yang artistik sehingga membuat daya tarik tersediri bagi orang yang melihatnya. Namun, seiring berkembangnya zaman tari topeng mengalami penurunan, sehingga para pemain tari topeng berpikir lagi untuk mencari pekerjaan demi menyambung kehidupannya. Muncullah ide dibenak mereka yaitu membuat topengnya saja. Usaha mereka tidak sia-sia kini berbekal dengan kerajinan topeng masyarakat itu bisa hidup sejahtera.
Selain kerajinan topeng, masyarakat Gunungkidul juga mempunyai makanan khas yang sudah dikenal oleh masyarakat se-Indonesia yaitu Tiwul dan gatot makanan yang berbahan baku singkong. Pada awalnya memang singkong sudah menjadi makanan utama oleh warga Gunungkidul. Bahkan setiap orang yang sudah pernah mangalami kehidupan pada zaman dahulu, mereka bisa dipastikan bisa membuat makanan yang terbuat dari singkong itu yaitu tiwul dan gatot. Pada masa itu para orang-orang sepuh (orang2 tua) membuat tiwul dan gatot untuk dijual kepasar. Setiap hari pekerjaan itu dilakoni oleh para warga demi menyambung kehidupan keluarga mereka. Gatot dan tiwul menjadi jajanan khas sejak wilayah itu dilanda kekeringan.
Seiring berkembangnya zaman tiwul dan gatot mulai tergeser oleh makanan lainnya yang sudah mulai masuk kedaerah Gunungkidul. Air PAM sudah dapat mengalir kewilayah pelosok sehingga para petani bisa menanam padi dan tanaman lainnya. Tetapi, makanan khas itu tidak langsung punah begitu saja. Ada salah satu warga yang dulunya penjual gatot dan tiwul dipasar yang tidak mau menyerah, ia tetap akan melestarikan makanan khas Gunungkidul dan tetap akan menjual makanan itu. Sebut saja Bu Tumirah selain menjual tiwul ia juga menjual gorengan pada zaman dulu. Kini ia masih tetap bertahan dengan menjadi penjual tiwul dan gatot walaupun para anggota sesama penjual dipasar dulu banyak yang sudah gulung tikar.
Kini usahanya berkembang dengan pesat, Bu Tumirah yang sekarang biasa disebut dengan panggilan Yu Tum telah berhasil membawa nama Gunungkidul keberbagai daerah di Indonesia karena kekhasan rasa tiwul dan gatot yang ia buat. Penikmat tiwul dan gatot yang ia buat tidak hanya dari kalangan bawah saja, namun banyak para pejabat yang sudah menjadi pelangan di warung Yu Tum yang terletak di jalan pramuka 36, dusun Pandansari Wonosari. Jadi jangan meremahkan daerah Gunungkidul, karena wilayah itu kini menjadi jantung pariwisata yang ada di DIY. Kemajuan perekonomian membuat Gunungkidul selalu bertambah makmur.